Followers

Thursday, 26 July 2012

Akibat Berbuat Maksiat


Akibat Berbuat Maksiat

„Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertobat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat , „Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka." (QS Al-Muthoffifiin : 14) (HR Tarmidzi)


Perbuatan Maksiat Dalam Al-Qur'an Allah swt berfirman yang artinya : „Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada ku" (QS.51:56)


Disana Allah swt menegaskan kepada manusia, bahwa maksud dari penciptaan manusia dan jin adalah hanya untuk beribadah kepada Allah swt, lain tidak. Dalam rangka menunaikan tugas ibadah tersebut, manusia diperintahkan untuk taat dan tunduk kepada semua perintah Allah swt, baik yang langsung Allah swt firmankan dalam Al-Qur'an, maupun yang disampaikan melalui sabda Rasulullah saw.


Oleh sebab itulah di dunia ini hanya terdapat 2 golongan manusia. Golongan pertama adalah mereka yang selalu taat pada segala perintah Allah swt dan sunnah Rasulullah saw. Sedangkan golongan kedua adalah mereka yang ingkar kepada 2 hal tersebut. Perbuatan ingkar itulah yang disebut dengan maksiat dan setiap perbuatan maksiat itu adalah dosa.


Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziah mengatakan, bahwa orang-orang bodoh mengandalkan rahmat dan ampunan Allah swt sehingga mereka mengabaikan perintah dan larangan-Nya serta lupa dengan azab-Nya yang pedih dan tak mungkin dicegah. Barangsiapa yang mengandalkan ampunanNya tetapi tetap berbuat dosa, dia sama dengan orang-orang yang membangkang.


Nasib Para Pelaku Maksiat
Al-Qur'an telah banyak menceritakan berbagai kejadian dan bahaya yang ditimbulkan dari perbuatan maksiat. Cerita tersebut bukanlah sesuatu yang dibuat-buat atau lamunan, apalagi cerita bohong untuk sekedar menakut-nakuti manusia, namun ia benar-benar terjadi dan menjadi tragedi bagi umat manusia.


Diantaranya adalah banjir besar yang mencapai puncak gunung pada masa nabi Nuh as yang menjadikan penghuni bumi karam tenggelam, angin puting beliung yang berhembus keras membanting kaum ‘Ad hingga semua mati bagaikan pelepah kurma yang berguguran, guntur dahsyat yang mematikan kaum Tsamud, hujan batu di negri Sodom pada kaum nabi Luth yang membinasakan semua penghuninya, awan azab berupa mega naungan yang ketika turun bagaikan api yang membakar kaum Syu’aib, tenggelamnya Fir’aun dan kaumnya di sungai Nil, pekik keras yang menghancurkan orang-orang yang digambarkan dalam surat Yasin.


Sekali lagi, semua kisah tersebut benar terjadi. Dan penyebab turunnya azab Allah swt tersebut tidak lain adalah perbuatan dosa dan maksiat sehingga semua menjadi pelajaran bagi umat manusia hingga hari kiamat.


Dalam hadits riwayat Ibnu Majah Rasulullah saw bersabda : „Wahai segenap Muhajirin, ada lima hal yang membuat aku berlindung kepada Allah swt dan aku berharap kalian tidak mendapatkannya. Pertama, tidaklah perbuatan zina tampak pada suatu kaum sehingga mereka akan tertimpa bencana wabah dan penyakit yang tidak pernah ditimpakan kepada orang-orang sebelum mereka. Kedua, tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan melainkan mereka akan tertimpa paceklik, masalah ekonomi dan kedurjanaan penguasa. Ketiga, tidaklah suatu kaum menolak membayar zakat melainkan mereka akam mengalami kemarau panjang. Sekiranya tidak karena binatang, niscaya mereka tidak akan diberi hujan. Keempat, tidaklah suatu kaum melakukan tipuan (ingkar janji) melainkan akan Allah swt utus kepada mereka musuh yang akan mengambil sebagian yang mereka miliki. Kelima, tidaklah para imam (pemimpin) mereka meninggalkan (tidak mengamalkan Al-Qur'an) melainkan akan Allah swt jadikan permusuhan antara mereka."


Rasulullah saw juga bersabda : „Jika engkau dapati Allah Azza wa Jalla memberikan limpahan kekayaan kepada seorang hamba padahal hamba itu tetap berada di dalam kemaksiatan, maka tak lain hal itu merupakan penundaan tindakan dari Nya" (HR Ahmad)
Selanjutnya beliau (Rasulullah saw) membaca ayat yang artinya : „Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (QS Al-An’aam : 44)


Imam Ahmad meriwayatkan, Abi Rafi’ bercerita bahwa Rasulullah saw pernah melewati pekuburan Baqi. Lalu beliau berkata, „Kotorlah engkau, cis ... !" Aku menyangka kiranya beliau maksudkan diriku. Beliau bertutur, „Tidak, cuma inilah kuburan si fulan yang pernah kuutus untuk memungut zakat pada bani fulan lalu dia mencuri baju wol dan kini dia sedang dipakaikan baju yang serupa dari api neraka.


Dalam shahih Muslim dikatakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda : „Penduduk yang di dunia begelimang kesenangan sementara dia itu termasuk ahli neraka dihadirkan pada hari kiamat untuk kemudian dicelup dengan celupan neraka. Kemudian kepada mereka dikatakan, „Hai ibnu Adam, adakah kau lihat kebaikan ?" Dia menjawab, „Wallahi, tidak ya Rabbi !" Dan manusia yang di dunia paling sengsara hidupnya sementara dia itu calon penghuni surga akan dicelup dengan celupan surga. Lalu kepada mereka akan dikatakan, „Hai ibnu Adam, adakah kau peroleh kesengsaraan ? Adakah kau temui kegetiran ?" Dia menjawab, „Tidak, demi Allah ya Rabbi, tidak kudapati sama sekali.""


Sedangkan dalam shahih Muslim Rasulullah saw pernah bersabda tentang 3 golongan manusia yang pertama diadili di hari akhir. Golongan pertama adalah mereka yang mati syahid. Diantara mereka wajahnya tersungkur dan diseret ke neraka karena ternyata perang yang telah dilakukannya semata-mata hanya agar disebut pahlawan. Golongan kedua adalah orang yang sering membaca Al-Qur'an, rajin menuntut ilmu dan senantiasa mengamalkan pengetahuannya. Namun ternyata mereka juga tersungkur dan diseret ke dalam nereka. Mengapa ? Karena ternyata mereka hanya ingin mendapat gelar sebagai orang alim dan pintar. Golongan ketiga adalah seorang laki-laki yang seluruh kekayaannya dia korbankan. Tetapi nasibnya sama dengan kedua golongan sebelumya, ia tersungkur dan diseret ke neraka, karena ia melakukan itu agar dikatakan dermawan.


Masih banyak ayat-ayat Al-Qur'an maupun sabda Rasul yang menggambarkan akan bencana apa yang dialami oleh orang yang berbuat maksiat. Namun cukuplah kiranya beberapa ayat, hadits dan kisah diatas menjadi pelajaran bagi kita untuk bisa diambil hikmah dan membuat kita lari dari perbuatan maksiat.

HUTANG???


Diriwayatkan daripada Abu Hurairah, katanya, “Pernah ada jenazah seorang lelaki yang mempunyai hutang dihadapkan kepada Rasulullah, maka baginda bertanya: Apakah dia ada meninggalkan sesuatu untuk membayar hutangnya? Sekiranya baginda diberitahu bahawa orang itu ada meninggalkan sesuatu untuk membayar hutangnya, maka baginda akan mendirikan sembahyang ke atas jenazahnya. Sekiranya dia tidak meninggalkan sesuatu baginda bersabda: Sembahyangkanlah ke atas temanmu itu. Selepas Allah memberikan kemudahan kepada baginda dalam menakluk negeri, baginda bersabda. Aku lebih berhak terhadap orang mukmin daripada pada diri mereka sendiri. Oleh itu, sesiapa yang mati meninggalkan hutang, maka akulah yang akan membayarnya dan sesiapa yang mati meninggalkan harta, maka harta itu untuk ahli warisnya.”
(Hadis riwayat al-Bukhari)

Agama Islam membenar malah mengharuskan seseorang itu berhutang ketika berdepan dengan kesusahan dan kesempitan hidup yang melibatkan masalah kewangan. Dalam masa yang sama, Islam memberi galakkan kepada umatnya agar memberi bantuan dan pertolongan kepada mereka yang memerlukan dalam pelbagai bentuk seperti pinjaman secara hutang bagi meringankan beban yang ditanggung oleh mereka lebih-lebih lagi dalam hal keperluan asasi.
Maksudnya: Agama Islam membenar malah mengharuskan seseorang itu berhutang ketika berdepan dengan kesusahan dan kesempitan hidup yang melibatkan masalah kewangan. Dalam masa yang sama, Islam memberi galakkan kepada umatnya agar memberi bantuan dan pertolongan kepada mereka yang memerlukan dalam pelbagai bentuk seperti pinjaman secara hutang bagi meringankan beban yang ditanggung oleh mereka lebih-lebih lagi dalam hal keperluan asasi. Namun demikian, Islam begitu teliti dan amat memandang berat dalam soal memberi, menerima dan membayar semula hutang tersebut kerana ia melibatkan hubungan sesama manusia ketika hidup di dunia ini sehinggalah ke akhirat kelak.

ANTARA HADIS LAIN

Bahawasanya Thalhah bin Al-Bara’ sakit lalu Nabi Muhamad S.A.W datang untuk menjenguknya maka Nabi Muhammad S.A.W telah bersabda bahawasanya Aku tidak melihat Thalhah melainkan telah dalam tekanan mati. Sebab itu beritahulah kepadaku mengenainya halnya dan segerakanlah urusannya. Kerana tidak elok bagi mayat seseorang muslim itu ditahan dihadapan keluarganya.

Rasulullah S.A.W bersabda jiwa seseorang mukmin itu bergantung dengan hutangnya sehinggalah hutangnya itu diselesaikan

KETERANGAN HADIS

1) Hadis ini menyatakan bahawa syara’ memerintahkan untuk menyegerakan penyelesaian jenazah. 
2) Dalam hadis ini juga menyatakan bahawa para waris diharuskan menyelesaikan hutang simati terlebih dahulu kerana jiwa simati akan tergantung sekiranya hutang yang berkaitan dengan dirinya tidak diselesaikan. 
3) Menurut An-Nawawi lebih utama menyegerakan penyelesaian hutang simati dan berusaha melepaskan simati dari hutangnya.
4) Menurut Ibnu Qudamah menyegerakan serta menyelesaikan urusan jenazah apabila diyakini kematian simati adalah sesuatu yang dituntut kerana ia adalah perkara yang dipandang sebagai suatu kemuliaan bagi jenazah.
5) Seluruh ulama sepakat menetapkan kebaikan menyegerakan urusan jenazah dan tundaan urusan penguburan sekadar untuk memastikan kematiannya dan sekadar menunggu kedatangan orang-orang yang diperlukan doanya.


HURAIAN HADIS

Hadis ini menerangkan bahawa jiwa orang mukmin itu bergantung kepada hutangnya secara automatik, ia bersangkutan dengan orang yang mempunyai harta untuk membayar hutang. Penyelesaian hutang itu perlu disegerakan agar ia dapat diselesaikan. Ini adalah kerana jika hutang tidak dapat segera diselesaikan maka perlulah ada para pewaris menyatakan pertanggungjawabannya terhadap hutang itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh Abu Qatadah, ketika dibawa kepada Nabi Muhammad S.A.W satu jenazah dan baginda enggan bersembahyang keatasnya kerana simati itu mempunyai hutang. Abu Qatadah berkata ‘Ya Rasulullah S.A.W sembahyangkanlah jenazahnya kerana saya akan membayar hutangnya maka Rasullullah .S.A.W pun bersembahyanglah untuknya. 

Seluruh ulama’ bersepakat menetapkan kebaikan untuk menyegerakan urusan jenazah. Urusan jenazah hanya boleh ditunda sekadar untuk memastikan kematiannya dan sekadar menunggu kedatangan ahli waris. Hadis yang telah dinyatakan tadi menerangkan bahawa jiwa orang mukmin bergantung kepada hutangnya. Maka hal ini bersangkutan dengan orang yang mempunyai harta untuk membayar hutang.

FAKTOR YANG MENDORONG BERLAKUNYA AMALAN BERHUTANG

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang itu terjebak dalam hutang antaranya ialah :

1) Ingin memenuhi kehendak dan tuntutan hawa nafsu untuk memiliki sesuatu yang tidak mampu ditunaikan kecuali dengan berhutang.
2) Pengaruh daripada sahabat handai atau jiran tetangga yang sering memberi galakan untuk berhutang, lantaran itu ia berbuat demikian, walaupun pada hakikat dirinya itu tidak memerlukan, tetapi hanyalah untuk berbangga dengan apa yang dimilikinya.
3) Sikap tidak merasa puas dan cukup dengan apa yang telah dimiliki dan sanggup berhutang demi memenuhi kehendak dan hajatnya tanpa memikirkan akibat yang mendatang.
4) Kemudahan pinjaman yang disediakan oleh beberapa pihak tertentu seperti institusi kewangan dan perbankan bagi menggalakkan lagi amalan berhutang.
5) Berkehendakkan sesuatu benda yang melibatkan metarial dan kebendaan dengan cepat dan pantas walaupun pada hakikatnya ia tidak mampu berbuat demikian.

            Dalam hal ini jika perkara yang hendak dimiliki itu merupakan keperluan asasi (dharuriat) seperti makanan, minuman, tempat tinggal, pakaian, pelajaran dan seumpamanya, maka Islam membenarkan berhutang sebagaimana dalam sebuah hadis iaitu : Daripada Abu Hurairah R.A., berkata seseorang ; Ya Rasulullah, pekerjaan apakah yang paling baik ?, Baginda bersabda 'Memasukkan kepada saudara kamu kegembiraan atau melunaskan hutangnya atau memberi roti (makanan) kepadanya. "
Tetapi jika perkara yang ingin dimiliki itu bukan merupakan perkara asasi atau penting dalam kehidupan seseorang itu, maka tidak perlulah ia berhutang, kerana hanya akan menambahkan bebanan lebih-lebih lagi jika melibatkan institusi kewangan dan perbankan yang mengamalkan sistem riba'.
IMPLIKASI AMALAN BERHUTANG

1) Penyakit berhutang ini jika diamalkan akan menjadi satu budaya dalam kehidupan manusiayang boleh mendatangkan kesan negatif kepada pemiutang seperti muflis disebabkan bebanan hutang yang tinggi serta gagal melunaskan hutangnya.

2) Jiwa orang yang berhutang tidak akan tenteram dan aman, hidupnya dalam kancah resah gelisah dihantui oleh bebanan dan tuntutan hutang yang tinggi.

3) Seseorang yang terbeban dengan hutang itu akan memungkinkan ia melakukan pelbagai perkara yang dilarang oleh Syarak seperti mencuri dan menjual maruah diri semata-mata untuk melunaskan hutangnya.

4) Orang yang berhutang akan terikat hidupnya di dunia dan akan tergantung amalan dan rohnya setelah meniggal dunia sehinggalah dilunaskan segala hutang piutangnya semasa hidup. Sabda Rasulullah S.A.W; " Jiwa orang mukmin akan tergantung dengan hutangnya (iaitu tidak dihukum selamat atau celaka) sehinggalah dia menjelaskan hutangnya. 
Rasulullah S.A.W pernah berwasiat kepada para sahabat Baginda agar mengurangkan hutang seperti sabdanya: Kurangkanlah dirimu daripada melakukan dosa, maka akan mudahlah bagimu ketika hendak mati. Kurangkanlah daripada berhutang nescaya kamu akan hidup bebas'

5) Amalan berhutang ini bukan sahaja melibatkan kehidupan dunia semata-mata, bahkan ia berpanjangan hingga ke hari akhirat. Sabda Rasulullah S.A.W: Sesungguhnya sebesar-besar dosa di sisi Allah ketika seseorang hamba itu berjumpa dengan Allah nanti selepas dosa besar lain yang ditegah ialah seseorang lelaki yang berjumpa dengan Allah di hari Hisab dengan mempunyai hutang yang belum dijelaskan lagi "

6) Mereka yang berhutang walau sebanyak manapun amalan kebaikan yang dilakukan, ia tidak akan selamat di dunia dan di akhirat sekalipun dia mati syahid. Sabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud: Semua dosa-dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali hutangnya


Rasulullah S.A.W sendiri tidak akan menyembahyangkan jenazah orang yang masih mempunyai hutang. Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah, bahawa bila didatangkan kepada Rasulullah S.A.W satu jenazah, Rasulullah S.A.W tidak akan bertanya tentang amalan si mati, tetapi bertanya apakah si mati mempunyai hutang atau tidak. Jika si mati mempunyai hutang, baginda menyuruh sahabatnya menyembahyangkan jenazah tersebut atau baginda meminta sesiapa yang sanggup menaggung hutang si mati. Jika tiada, maka hutang tersebut akan diserah atau ditanggung oleh pihak Baitulmal.

Contoh - contoh Dalam Situasi Berhutang

Pelbagai contoh dan situasi behubung dengan hutang yang boleh kita teladani dan insafi antaranya ialah :-

1. Seseorang peniaga membuka sesuatu perniagaan dan memberi kemudahan berhutang kepada pelanggan-pelanggan, setelah tiba tempoh pembayaran hutang tersebut, mereka gagal berbuat demikian, perkara ini sudah tentu akan mendatangkan kerumitan kepada peniaga tersebut untuk meneruskan perniagaan sehingga boleh menyebabkan perniagaan itu ditutup.

2. Seseorang yang diterima untuk melanjutkan pengajian dengan mendapat pinjaman biasiswa. Setelah membuat perjanjian untuk membayar balik pinjaman tersebut dan setelah sampai tempohnya , dia mengabaikan perjanjian itu. Perkara ini akan menimbulkan kesukaran kepada pihak yang memberi pinjaman untuk meneruskan perkhidmatan seperti itu kepada generasi yang akan datang.

3. Bayangkanlah jika seseorang itu berhutang dengan institusi kewangan yang berkaitan dengan orang ramai umpamanya pinjaman kewangan kerajaan atau koperasi sudah pasti ia akan menjadi lebih rumit untuk diselesaikan apabila tiba hari pengadilan di hadapan Allah S.W.T kerana melibatkan ramai pihak. Oleh itu kita perlu berhati-hati dalam hal berhutang supaya tidak tergolong dalam golongan-golongan yang tersebut di atas.

Implikasi Melewat-lewatkan Bayaran Hutang

Apabila seseorang itu berhutang, maka ia wajib membayarnya semula dengan kadar segera setelah berkemampuan berbuat demikian.
Islam menganjurkan antara perkara-perkara yang wajib disegerakan di atas dunia ini ialah membayar segala hutang piutang selain daripada menyegerakan pengkebumian jenazah dan mengkahwinkan anak perempuan.
Seseorang yang suka melewat-lewatkan bayaran hutang setelah berkemampuan untuk membayarnya, boleh mendatangkan kesan yang buruk dalam kehidupannya bukan sahaja didunia bahkan di akhirat antaranya:-

1) Mereka akan ditimpa kehinaan dan hilang maruahnya
2) Hidup mereka tidak akan mendapat keredhaan dan keberkatan Allah S.W.T
3) Perbuatan mereka itu digolongkan dalam perbuatan zalim
4) Amalan kebajikan mereka tidak akan diterima sebagaimana Sabda Rasululah :
Maksudya" Penangguhan hutang oleh orang yang berkuasa membayarnya adalah satu kezaliman, halal maruahnya dan hukuman ke atasnya (iaitu pemberi hutang boleh mengambil tindakan ke atas diri dan maruahnya.
Seseorang yang berhutang itu, telah berjanji untuk membayar hutang mengikut sesuatu tempoh, tetapi dia tidak menepatinya, maka dia tergolong dalam golongan orang yang munafik sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud:-" Tanda-tanda orang munafik itu ada empat iaitu;

1) Apabila bercakap dia mendustainya
2) Apabila berjanji dia memungkirinya
3) Apabila diberi amanah dia mengkhianatinya
4) Apabila bergaduh dia berlebih-lebihan.
Dalam konteks masyarakat kita pada hari ini terdapat segelintir masyarakat yang berhutang, tetapi tidak menjelaskan hutang tersebut. Seringkali kita dengar dan lihat melalui laporan media cetak dan elektronik menerangkan tentang situasi mereka yang terpaksa berdepan dengan pelbagai bahaya bukan sahaja kepada dirinya malah turut melibatakan ahli keluarga yang menjadi mangsa seperti diugut, dipukul, disamun, dibunuh dan sebagainya.
Dalam masa yang sama, pinjaman hutang yang terlalu tinggi ditambah pula dengan bunga-bunganya menyebabkan si pemiutang tidak mampu untuk membayarnya. Disebabkan tidak tahan melalui semua itu, mereka mengambil jalan pintas dengan membunuh diri dan ada juga dikalangan mereka yang dibunuh dengan kejam.

Syor Dan Saranan
Setiap orang diharuskan berhutang tetapi harus diingat janganlah nilai hutang itu terlalu tinggi sehingga membebankan diri sendiri apabila hendak membayarnya.
Setiap hutang akan melibatkan pemberi dan pemiutang. Bagi menjamin hubungan mesra sesama manusia, adalah menjadi kewajipan dan tanggungjawab si pemiutang untuk membayar semula apabila sampai tempoh perjanjiannya. Allah S.W.T berfirman 

Maksudnya:
Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah serta sempurnakanlah perjanjian"
Pihak yang memberi hutang perlu mewujudkan satu perjanjian atau kontrak semasa berlakunya 'akad. Ini bagi mengelakkan sebarang bentuk penipuan berlaku seperti tidak langsung membayar semula hutang tersebut. Allah berfirman:

Maksudnya: “Wahai orang yang beriman apabila kamu menjalankan sesuatu urusan dengan hutang piutang yang diberi tempoh hingga ke suatu masa tertentu makan hendaklan kamu menulis (perjanjian hutang dan bayaran) dan hendaklah ditulis oleh seorang yang adil dan janganlah sesorang penulis enggan menulis sebagaimana Allah mengajarkan. Hendaklah ia menulis dan orang yang berhutang merencana dengan jelas dan hendaklah bertakwa kepada Allah dan janganlah ia mengurangkan sesuatu pun dari hutangnya itu"
Orang yang berhutang hendaklah mempunyai sikap bertanggungjawab di atas hutangnya. Jangan sekali-kali menangguhkan pembayaran hutang tersebut apabila mempunyai peluang untuk membayar hutang kerana perbuatan tersebut digolongkan dalam perbuatan zalim dan dia berhak mendapat hukuman di atas perbuatannya itu. 
Orang yang berhutang hendaklah tidak terpengaruh dengan anasir-anasir buruk yang boleh membawa kepada bebanan hutang. Ia perlu mengamalkan sikap sabar dan cukup dengan apa yang dimiliki.

KESIMPULAN

            Islam sangat mengambil berat dalam soal pembayaran hutang, dalam erti kata lain pembayaran hutang merupakan suatu syarat untuk mendapatkan keredhaan Allah S.W.T. Seseorang yang berhutang hendaklah berniat dalam hatinya untuk menunaikan hutang tersebut mengikut tempoh masanya kerana Allah S.W.T akan memudahkan baginya untuk membayar hutangnya.
Seseorang yang berhutang janganlah menangguhkan bayaran jika mempunyai peluang untuk membayarnya kerana perbuatan tersebut adalah tergolong dalam perbuatan orang yang zalim. Kita mesti mempunyai sifat syukur kepada Allah S.W.T. dengan apa yang telah kita miliki dan melaksanakan sifat amanah serta tanggungjawab agar kita dilindungi daripada bahaya dunia dan akhirat

Rukhsah & Azimah

Azimah dan rukhsah adalah antara elemen penting dalam ilmu fiqh. Kerapkali kita berhadapan dengan persoalan kemudahan (taysir) atau pemberatan hukum fiqh dalam pelbagai jenis situasi, tapi kita tidak tahu apakah konsep-konsep yang ada di sebaliknya.

Ada yang keliru dengan memahami rukhsah sebagai tindakan mengambil 'subsidi', atau sengaja ambil mudah dalam hal-hal ibadah dan kewajiban. Di sisi lain, ada pula yang suka mengambil yang mudah-mudah saja dalam perbezaan pandangan fiqh, tanpa melihat kepada penilaian atau tarjih para ulama'. Kesemua ini merupakan kecelaruan pemahaman akibat tidak mempunyai asas pengetahuan tentang rukhsah dan azimah.

Apakah rukhsah dan azimah itu? Dalam kesempatan ini, insyaAllah akan dibincangkan secara asas tentang kedua-dua elemen ini.

Azimah (عزيمة)

Azimah menurut bahasa bermaksud "keinginan yang kuat". Kata kerjanya (fi'il)adalah "azama" (عزم). Kata jamak (plural) bagi azimah ialah "azaa-im" (عزائم). Di dalam Al-Quran, perkataan azmu, iaitu kata akar bagi azimah, disebutkan bagi menunjukkan erti kemahuan yang kuat:

 وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا

"Maka ia lupa (akan perintah itu), dan Kami tidak mendapati padanya kemahuan yang kuat (azmu)"
  (Thaha: 115)


Dari segi istilah, ramai ulama' telah memberikan pengertian azimah. Antaranya Imam Al-Ghazali mendefinisi azimah sebagai "sesuatu yang menyebabkan kamu melakukan apa yang diwajibkan Allah". Imam As-Syathibi pula mendefinisikannya sebagai "beberapa hukum umum yang telah ditetapkan sejak awal lagi".

Sheikh Dr Ali Abu Al-Basal meneliti semua definisi di atas termasuk ramai 'ulama lain. Lalu beliau membuat definisi yang lebih jelas tentang azimah, iaitu: "Hukum yang ditetapkan secara umum dari peringkat awal, dan boleh dimansuhkan sekiranya seseorang itu dalam keadaan yang uzur dan tenat".

Dalam erti kata lain, bolehlah difahami menurut bahasa yang lebih mudah, bahawa azimah merupakan perintah asal sesuatu hukum tetapi dibatalkan atau diubah bentuknya disebabkan keadaan darurat. Ia menunjukkan taklifan (bebanan tanggungjawab) untuk orang-orang beriman.

Rukhsah (رخصة)

Pengertian rukhsah bermakna "keringanan". Perkataan asal berbentuk kata kerjanya (fi'il madhi) adalah rakhoso (رخّص) yang bermaksud "telah menurunkan" atau "telah mengurangkan". Orang yang mendapat keringanan disebut sebagai "raakhis" (راخص).

Pengertian rukhsah sangat meluas disebutkan oleh para 'ulama. Imam Al-Ghazali mendefinisikan rukhsah sebagai "sesuatu yang dibolehkan kepada seseorang mukallaf untuk melakukannya kerana uzur". Imam Al-Baidhawi pula mendefinisikan rukhsah sebagai "hukum yang berlaku tidak sesuai dengan dalil yang ada kerana keuzuran".

Sekali lagi kita kembali meninjau penilaian Sheikh Dr. Ali Abu Al-Basal, di mana beliau telah memilih definisi rukhsah Imam Al-Baidhawi sebagai paling tepat. Antara sebab kenapa beliau memilih definisi ini ialah kerana ia membawa maksud yang berlawanan dengan azimah. Ertinya, di mana azimah menyuruh kepada beramal mengikut dalil, rukhsah pula ialah beramal tidak serupa dengan dalil kerana wujudnya kepayahan dalam sesuatu situasi.

Tambah beliau lagi: "Azimah adalah hak Allah ke atas hamba, sedangkan rukhsah adalah hadiah Allah kepada hamba". Sebagai satu kesimpulan, rukhsah bolehlah dikatakan sebagai lawan bagi 'azimah.

Sebab-Sebab Keringanan

Menyimpulkan daripada apa yang disebut oleh Imam Ibnu Nujaim, para ulama telah menetapkan tujuh sebab wujudnya rukhsah:
  1. Bermusafir. Contohnya rukhsah qasar dan jamak solat, menyapu khuf lebih daripada sehari semalam dan sebagainya.
  2. Sakit. Contohnya bolehnya jamak solat kerana sakit, tayammum kerana tidak boleh  terkena air, sakit sehingga atau tidak mampu ke tempat ambil wudhu dan lain-lain.
  3. Lupa. Contohnya puasa tidak batal jika makan atau minum kerana terlupa. Begitu juga orang yang terlupa belum menunaikan solat tidak dihukum berdosa sebaliknya harus segera mengqada solat tersebut.
  4. Kebodohan. Contohnya jika seseorang tidak pasti ada terkeluar angin atau tidak dalam solat, maka solat dan wudhunya belum lagi terbatal.
  5. Kesukaran. Ini termasuklah sukar untuk kekal dalam keadaan suci tetapi jika wajib solat, maka solatnya sah. Contohnya pesakit kencing tidak lawas, haid yang berterusan dan sebagainya.
  6. Paksaan. Contohnya jika terpaksa mengucapkan kalimah kufur, atau minum arak, kerana diugut, maka hal itu tidak mengapa jika hatinya sekeras-kerasnya membenci hal tersebut.
  7. Kekurangan. Contohnya kanak-kanak kecil dan orang gila tidaklah dikira sebagai mukallaf, maka mereka dibebaskan daripada tanggungjawab syari'e seperti solat fardhu, jihad, zakat, haji dan sebagainya.
Jenis-jenis Keringanan dalam Syariat

Keringanan, disebut juga sebagai takhfif selain rukhsah, sekali lagi menurut Ibnu Nujaim, terdiri daripada tujuh jenis:
  1. Menggugurkan (Takhfif isqath), seperti pengguguran kewajiban solat jumaat kepada orang yang sakit kronik.
  2. Mengurangkan (Takhfif tanqish), seperti qasar solat empat rakaat menjadi dua semasa bermusafir, dibolehkan solat setakat yang mampu bagi orang yang sakit dan lain-lain. 
  3. Menggantikan (Takhfif ibdal). Contohnya penukaran wudhu kepada tayammum jika tiada air.
  4. Mendahulukan (Takhfif taqdim), seperti rukhsah jamak taqdim.
  5. Mengakhirkan (Takhfif takhir). Ini termasuklah rukhsah jamak takhir, melewatkan solat 'isyak dan lain-lain.
  6. Meringankan (Takhfif tarkhish), seperti dibolehkan minum arak jika tercekik sesuatu apabila tiada minuman lain di sekelilingnya.
  7. Mengubah (Takhfif taghyir). Contohnya, perubahan bentuk perbuatan solat menjadi lebih ringan semasa peperangan.
Tidak semestinya hanya satu jenis rukhsah diamalkan dalam setiap situasi. Adakalanya, bahkan dalam banyak keadaan, pelbagai jenis rukhsah diamalkan sekaligus selagimana keadaannya membenarkan. Kesemua di atas ini merupakan solusi rukhsah kerana wujudnya elemen-elemen yang membolehkannya, selagimana ianya disahkan oleh Al-Quran, As-Sunnah dan sumber-sumber hukum lain berdasarkan kaedah-kaedah fiqh. 

Rukhsah atau Azimah
Di sini terdapat perbahasan mendalam menurut 'ulama. Apa yang pasti, pemilihan azimah atau rukhsah bergantung kepada keadaan diri seseorang. Azimah dianggap sebagai al-aslu, atau asal bagi hukum. Selagi tidak ada sebab atau 'illah yang mengubah hukumnya, maka ia tetap merupakan azimah. 

Jika wujudnya situasi syari'e yang membolehkan untuk memilih rukhsah, maka barulah rukhsah dibenarkan. Malah dalam sesetengah hal, pemilihan rukhsah bukan sahaja dibenarkan bahkan dianggap lebih utama berbanding azimah kerana adanya contoh daripada Rasulullah s.a.w sendiri.

Contohnya, hukum solat qasar yang dianggap sebagai wajib oleh sesetengah ulama' dan sunnah oleh 'ulama yang lain. Banyak sunnah perbuatan (fi'liyyah) dan perkataan (qauliyyah) yang menunjukkan hal ini. Antaranya, ketika ditanya oleh Umar r.a. tentang solat qasar semasa bermusafir sedangkan keadaannya aman, baginda s.a.w menjawab:

"Solat qasar itu merupakan sedekah yang diberikan Allah s.w.t kepada kalian maka terimalah sedekahNya"
 (HR Muslim dan Nasai'e)

Hal ini bertepatan dengan inspirasi syariat Islami, yang menginginkan kemudahan. Konsep ini juga selari dengan sifatnya yang fleksibel (muruunah). Telah jelas disebut dalam Al-Quran:

"Allah mengkehendaki bagi kamu kemudahan dan tidak mengkehendaki bagi kamu kesulitan" 
 (Al-Baqarah: 185) 

Kini kita jelas bahawa agama ini menginginkan kemudahan dan tidak mungkin adanya kesusahan luar biasa bagi seseorang mukallaf. Jika terjadi juga kesusahan luar biasa, maka ia pasti mendapat keringanan. Ini kerana Allah tidak akan membebani seseorang di luar kemampuannya:

"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kemampuannya"  
(Al-Baqarah: 286)

Malah terdapat satu kaedah fiqh yang berbunyi: 
"apabila permasalahan semakin menghimpit, maka hukumnya menjadi luas".
 Ini pernah diucapkan oleh Imam As-Syafi'e sebagai jawapan bagi persoalan tentang adakah bekas yang digunakan untuk membuang sampah boleh digunakan untuk wudhu.

Walau apapun, untuk mengetahui rukhsah, perlulah tahu azimahnya dahulu. Tidak dapat dinafikan semua ini memerlukan ilmu. Bagi setiap azimah yang dipelajari, sewajarnya kita cuba meneroka olahan para ulama fiqh berkenaan rukhsah yang mungkin mengiringinya. Apabila ilmu agama semakin luas, maka pengamalan agama pun terasa semakin lapang. 

Mungkin ada yang cenderung kepada azimah kerana kurangnya ilmu tentang rukhsah. Malah, ada yang sampai menentang rukhsah ibadah kerana akal mereka tidak sependapat, sedangkan agama ini tertegak di atas dalil dan hujah. Islam sama sekali bukan agama yang didirikan berteraskan akal atau falsafah. 

Namun, mungkin ada pula yang hanya mahukan kemudahan walaupun sebab rukhsahnya tiada. Mungkin ada yang cuba memutar-belit situasi dengan helah ingin mendapatkan rukhsah. Kesalahan lain termasuk memilih rukhsah sedangkan ada keraguan dalam sebabnya atau ada unsur kemaksiatan, kerana rukhsah dalam keadaan ini adalah tidak sah. Golongan ini suka memilih yang termudah saja dalam perbezaan pendapat tanpa adanya penilaian yang ilmiah. Jenayah ini dinamakan sebagai tatabbu' ar-rukhas (تتبع الرخاص) dan mesti kita hindari.

Sikap yang benar adalah bersikap adil dalam menghalusi pendapat fiqh. Jika kita sudi meluangkan masa untuk belajar tentangnya, melalui guru-guru bertauliah baik secara langsung ataupun media, ataupun melalui bahan-bahan bacaan ilmiah, insyaAllah pemahaman kita semakin utuh dan tajam. Pada masa yang sama, kita dapat mengembangkan bakat-bakat fiqh (malakah al-fiqhiyyah), sejenis kepintaran yang sangat baik untuk kita semaikan.

Wallahu a'lam.

..::Lelaki & Wanita::..

apa benar kalian perempuan dan lelaki??? ayuh.. sama2 renungkan.. moga mendapat manfaat dan mendapat maghfirah dariNya...

Ada orang mengatakan alangkah susahnya menjadi perempuan. Banyak benar kekangan, sedari kecil tidak boleh hidup bebas. Pergerakannya diperhatikan orang tua. Gerak gerinya menjadi bualan. Hinggalah ada juga yang memberontak jiwanya, ingin keluar dari kepompong sehinggalah dibuang sifat-sifat kewanitaannya untuk menyamai lelaki. Yang jauh dari itu mempersoalkan taqdir yang telah ditentukan oleh Yang Maha Esa. Lalu ia melanggar naluri dan fitrah seorang wanita.

Wanita perlu pula menutup auratnya dengan sempurna. Maklumlah aurat yang rata-rata difahami hanya sekadar menutup rambut sudah memadai katanya sedangkan ia jauh dari itu. Tutur katanya juga perlulah dijaga agar tidak timbul perasaan jahat di hati lelaki. Hinggalah terbit dari hati "Wahai, sukarnya menjadi seorang wanita"

Rupanya apabila Islam telah menyebarkan sinarnya pada zaman Jahiliyyah yang menzalimi wanita dan anak-anak perempuan maka tinggilah martabat kemuliaan wanita. Sehinggalah di dalam al Quran terdapat surah An Nisa' iaitu surah wanita dan Islam amat menjaga wanita serta ditunjukkan hak-hak yang perlu diberi kepada kaum hawa ini.

Wahai wanita, janganlah hendaknya dirimu dibiarkan rosak oleh kaum Adam yang jahat perangainya, dipergunakan untuk mendapatkan keuntungan. Lihat sahajalah di setiap iklan di dalam media massa, bukan barangan yang menjadi tontonan. Tetapi di sebaliknya wanita yang berada di sisinya, maka larislah barangan disebabkan wanita dipergunakan setiap mahkota yang ada padanya. Alangkah harubirunya dunia ini apabila pemudinya rosak akhlaknya. Bila tiada kekuatan aqidah dan pendidikan agama, walau seorang profesional sekalipun tidaklah lepas dari jatuh ke lembah kehinaan jika tiada cinta kepada ALlah.

Wanita Kebanggaan Islam

Wanita jika yang dibentuk dirinya dengan acuan yang betul, lahirlah serikandi Islam sebagaimana Aisyah radiyaLlahu 'anha, lahirlah anak yang taat kepada ibu dan ayahnya sebagaimana Asma' binti Abu Bakar yang digelar zatun nitaqoin membawa bekal, memanjat sehingga ke pintu gua untuk memberi bekalan kepada 2 orang kekasih ALLah iaitu ayahnya sendiri Saidina Abu Bakar As Siddiq dan junjungan besar Nabi Muhammad SallaLLahu 'alaihi wasallam. Alangkah bahagianya apabila ada pendorong di dalam hidup, pendokong ketika dalam kesusahan dan kesedihan, menjadi teman seperjalanan menemani hayat sebagaimana Ummul Mukminin Saidatina Khadijah binti Khuwailid. Tentunya menjadi ibu kebanggaan para pencinta Islam sebagaimana Ummu Habibah (gelaran bagi Ramlah binti Abu Sufyan), walau ditimpa ujian bertalu-talu, dipaksa untuk murtad oleh ayahnya ketika ia memeluk Islam. Ditambahi pula dengan karenah suaminya yang telah berpaling dari Islam dengan memeluk agama Kristian, beliau rela berpisah kerana cintanya kepada ALlah melebihi segala-galanya dan tinggilah darjatnya apabila dilamar oleh RasuluLlah untuk menjadi teman hidupnya. Balasan untuk orang yang sabar dan gigih di dalam agama ALlah.

Jika diselusuri sejarah, ramainya tokoh-tokoh wanita Muslimah yang memberi sumbangan besar di dalam dunia Islam. Fatimah binti Sa'ad al Khair al Ansari al Andalusi, lahirnya di China pada tahun 522 Hijrah. Mengajar di Kaherah dan Damsyiq dan ramai tokoh yang mengambil hadith darinya seperti al Hafiz al Munziri. Siti Zubaidah, isteri Khalifah Harun al Rasyid telah membelanjakan sebahagian besar hartanya untuk memperkuatkan kubu pertahanan dan kawasan sempadan. Jasanya dalam menampungi saluran air yang dibina dari Baghdad hinggalah ke Mekah untuk jemaah haji sehinggalah saluran air ini dikenali sebagai "Ain Zubaidah" (Mata Air Zubaidah). Lihatlah perkataannya - apabila dibentangkan kepadanya kos perbelanjaan saluran itu, beliau telah mencampakkan bil perbelanjaan itu ke dalam sungai sambil berkata : "Kami tinggalkan hitungannya untuk Hari Perhitungan". ALLahu... ALlah..

Kitalah Lelaki Itu...

Ada orang mengatakan payahnya menjadi lelaki. Besarnya tanggungjawab yang perlu dipikul untuk meneruskan kehidupan. Maklumlah di zaman ini, besarlah cabaran bagi seorang lelaki yang dipenuhi dengan tribulasinya. Kita diuji dengan penglihatan yang menggoda iman, patutlah ALlah menyuruh kita di dalam firmanNya yang bererti :

" Katakanlah kepada orang2 beriman laki2 agar mereka menundukkan pandangan mata ( terhadap wanita ), dan memelihara akan kemaluan mereka ( menutupya ). Yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah amat mengetahui akan apa yang mereka kerjakan. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya."
( An-Nur : 30-31 )

Berapa ramai yang telah kalah di dalam menjaga pandangan dan kemaluannya ?...

Suami diuji dengan isteri, harta, anak-anak. Orang lelaki perlu bekerja mencari rezeki dan bukannya duduk goyang kaki. Orang lelaki perlu kuat pegangan agamanya, tahu menjadi imam, mempunyai daya kepimpinan, membuat keputusan yang betul. Kita tetaplah lelaki untuk meneruskan perjalanan di bumi ALLah ini, tidak mudah mengalah, berusaha untuk menjadi pemimpin yang baik dan memperbaiki diri. Begitulah, hidup orang yang beriman, kesusahan itu sebenarnya adalah hiburan, ujian itu menambahkan cinta kepada ALlah. Kita selusuri kembali dari kacamata sirah siapakah lelaki sejati yang menjadi tauladan umat ini.

Lelaki Sejati Perlu Mencontohi Mereka...

Agungnya akhlaqmu ya RasuluLLah menjadi suri tauladan sepanjang zaman. Tarbiah dan didikanmu kepada para sahabat melahirkan Abu Bakar yang sikapnya lemah lembut tetapi tegas di dalam menjalankan hukum ALLah. Menjadikan Saidina Umar berani di hadapan para kafir Musyrikin serta besar jasa-jasanya dalam menyebarkan dakwah Islam dan diteruskan kegemilangannya oleh Saidina Uthman dan Saidina Ali radiyaLlahu 'anhum. Begitulah seorang dari seorang sahabat yang amat memusuhi Islam akhirnya menjadi panglima Islam yang berani sebagaimana Khalid bin Al Walid. Adakah kesusahan, kesulitan menjadikan mereka cengeng dan berundur dari melaksanakan tugas sebagai hamba ALlah?

Siapakah yang tidak kenal seorang hamba yang berkulit gelap berbangsa Habsyi yang upahnya setiap hari adalah dua genggam kurma. Tetapi putih bersih hatinya, kebal imannya dari dicarik dan dirosakkan oleh ketulan batu yang menghempap dirinya. Beliaulah muazzin ar Rasul (tukang azan RasuluLlah), pelopor kebebasan peribadi walaupun zahirnya diikat sebagai hamba kepada Muawiyah bin Khalaf, namun jiwanya bebas hanya untuk menyembah ALlah sehinggalah ia benar-benar bebas dimerdekakan oleh sahabat yang mulia hatinya iaitu Saidina Abu Bakar radiyaLLahu 'anhu. Lelaki sejati inilah yang berjuang di barisan hadapan di dalam siri-siri peperangan ketika bersama RasuluLLah dan berjaya membunuh Umaiyah bin Khalaf semasa peperangan Badar al Kubra.

Kentalnya jiwa Urwah bin Zubair seorang ahli fiqh yang terbesar. Menurut ceritanya sebelah kakinya mendapat penyakit yang menyebabkan para doktor memutuskan ia perlu dipotong agar tidak merebak sehingga ke betis dan seluruh tubuhnya. Lalu beliau disuruh untuk meminum satu minuman yang boleh menghilangkan kewarasan akalnya supaya dia tidak merasa sakit. Lalu beliau berkata 

"Aku tidak mengira, bahawa seorang yang beriman kepada ALlah akan mahu minum sesuatu yang dapat menghilangkan akalnya, sehingga dia tidak mengenal dan ingat la akan Tuhannya. Biarlah kakiku ini dipotong"

Lalu dipotong pada lututnya. Dia diam sahaja, tidak berkata apa dan tidak mengeluh atau merintih barang sedikitpun.

Selanjutnya qadar ALlah telah pun tertulis, untuk menguji iman lelaki sejati ini. Di malam hari kakinya dipotong itu terjatuh pula putera kesayangannya dari tingkat atas rumah lalu meninggal ketika itu juga. Kawan-kawannya pun datang mengucapkan takziah (menyatakan turut rasa duka cita). Urwah bin Zubair mengucapkan : 

"Ya ALlah! Pujian untuk Engkau. Anakku tujuh orang, lalu Engkau ambil satu, dan tinggal enam orang. Kaki tanganku ada empat, lalu Engkau ambil satu dan masih tinggal tiga. Kalau Engkau yang memberikan cubaan, sesungguhnya Engkau juga yang menyelamatkan (menyembuhkan)"
ALLahu...ALlah...

Tugas Kita Sebagai HambaNya...

Di antara rasa susah dan payahnya menjadi perempuan dan lelaki. Maka perlu bertanya juga di dalam hati, sudahkah kita mensyukuri nikmat yang ALlah telah beri selama menjadi perempuan dan lelaki? Wanita dan lelaki yang beriman tetaplah perlu bergandingan bantu membantu di dalam perjuangan diri, keluarga dan masyarakat ke jalan ALlah. Mengajak ke arah kebaikan, menegur kemungkaran bukan tugas 'seseorang'. Lupakah kita firmanNya yang bererti :

" Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana ".
(Surah at Taubah : Ayat 71)

Ya saudaraku sekalian, bukan bergandingan bahu membuat maksiat atau penzinaan tetapi bahu membahu di dalam meninggalkan larangan dan mengerjakan taat kepada ALlah..

by : Waznah Alhamraa
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...